Posted by: thres | 17 Agustus 2008

Senyumnya tangisnya

Ada seorang gadis yang berwajah cantik

Dengan senyum yang selalu muncul di wajahnya

Ia mempunyai hati yang lemah lembut

Dengan kesabaran yang seakan tiada batas

 

Tawanya terdengar saat bercanda dengan teman-temannya

Ia sangat senang membantu siapa saja yang membutuhkannya

Mendengarkan berbagai keluh kesah teman-temannya

Tanpa mau menyela

 

Tapi siapa yang tahu rahasia dibalik senyumannya?

Dibalik tawanya yang renyah?

Adakah yang tahu isi hatinya?

Siapa yang mampu melongoknya?

 

Tahukah…

Bahwa jauh di relung hatinya, ada luka yang sangat dalam

Ada kesepian yang membeku

Ada pandangan mata yang kosong, menerawang jauh….

Pandangan mata yang hampa

Dengan sinarnya yang redup, nyaris sirna…..

 

Senyumnya adalah tangisnya

Tawanya adalah jeritan hatinya

Tangis dan jeritan hati di relung paling dalam

Penuh misteri yang sulit dimengerti

 

Ia menunggu…

Dan menunggu….

Menunggu suatu ketidak pastian yang tak bertepi

Menunggu harapannya yang tenggelam, bangkit kembali

Menunggu setetes embun yang menyegarkan dahaganya

Menunggu impian kecilnya terwujud kembali

Menunggu……menunggu….

Entah sampai kapan

Ia sendiri pun tak tahu……

 

Posted by: thres | 7 Agustus 2008

Hati yang membeku

Malam terasa begitu dingin…

Hening

Sunyi mencekam

Seperti hatiku saat ini

Begitu dingin

Begitu sepi

Hanya kabut yang ada di depan mataku

Hanya warna hitam pekat yang ada dalam pandanganku

Kapankah kehangatan akan menyelimutiku

Kapankah api cinta menyala dalam hatiku

Mencairkan segala kebekuanku….

Hanya Engkau, Tuhan, sandaran hidupku…

Hanya Engkau yang mengetahui segala isi hatiku

Hanya Engkau yang sanggup memberiku kehangatan

Hanya Engkau yang sanggup memberiku kekuatan

Sehingga warna hitam dalam hatiku

Perlahan berubah menjadi warna-warna yang indah..

Seiring perjalanan waktu

Yang harus ditempuh……..

Posted by: thres | 1 Agustus 2008

Impian yang sirna

Tak ada yang mampu menghentikan waktu

Waktupun terus berjalan …

Tahun pun berganti …

Sosok tubuh mungil dengan tawanya yang ceria itu telah hilang

Rumah besar di tengah kota itupun telah lenyap

Canda tawa pun tak terdengar lagi

Hanya kenangan yang tertinggal

Dengan impian indah sang bocah kecil tenggelam di dalamnya.

……

Seorang gadis remaja berjalan perlahan, melangkahkan kakinya di sebuah rumah yang sangat sederhana di pinggiran kota.

Baru saja dia membuka pintu rumah, terdengar suara ribut-ribut dari dalam.

Hhhhhhhhh… keluh Ria, suara-suara itu sudah tak asing lagi baginya, setiap hari terdengar, seakan tanpa henti.

Suara tangisan ibu, suara teriakan ayah, dan suara barang-barang pecah yang dibanting dengan sengaja, prang !!!!!

Ria melangkah dengan cepat ke dalam kamarnya, dilemparkannya tas sekolahnya di atas kasur dan sesaat kemudian dia menghempaskan tubuhnya di sana. Diambilnya kapas, ditutupnya telinganya dengan kapas itu, tapi suara pertengkaran itu masih terdengar. Dia ingin melerai, tapi tak berani .. tak kuasa.

Ditutupnya telinganya dengan kedua tangannya, ditekannya kuat-kuat sampai terasa panas .. panas sekali!!

Telinganya sudah merah membara, tapi percuma saja, suara neraka itu masih tetap masuk ke dalam kamarnya yang memang tidak mempunyai pintu, menembus sehelai kain penutup yang berfungsi sebagai pintu kamarnya.

Ria berlari ke dalam kamar mandi belakang, berharap suara itu bisa lenyap.

Tapi harapan ….hanyalah harapan.

Akhirnya dia terduduk lemas di sudut kamar mandi, terisak perlahan.

Tubuhnya menggigil …..gemetar …..

Aku tak mau mendengar lagi !!!! Aku tak mau mendengar lagi !!!!!

Tuhan, kapan semua ini akan berakhir ?

Rumah ini sudah bukan rumah yang nyaman lagi untuk tinggal, rumah ini sudah seperti neraka …neraka!!!

Panas membara !!!

Aku ingin keluar dari rumah ini secepatnya, aku ingin cepat dewasa, aku ingin lari dari neraka ini !

Di luar sana banyak orang buta, tuli dan cacat tubuh.

Mereka semua memang sangat menderita, tapi aku juga menderita , Tuhan!

Hatiku yang menderita, hatiku yang terluka!!

Aku ingin jadi buta biar mataku tak melihat semua ini …

Aku ingin jadi tuli biar telingaku tak mendengar suara pertengkaran lagi …

Aku ingin tubuhku yang cacat, daripada hatiku yang cacat …

Salahkah ? Salahkah aku jika aku menginginkan keluarga yang bahagia ? Salahkah ?

Kalau saja bumi ini bisa terbelah, aku ingin tubuhku tenggelam di dalamnya.

Biarlah bumi ini menenggelamkan diriku,

menenggelamkan harapan-harapanku..

menenggelamkan semua mimpi-mimpiku ..

…………………

Posted by: thres | 30 Juli 2008

Seputih hati Ria

Sesosok tubuh mungil berlari-lari di dalam rumah itu. Badannya berputar-putar, sesekali tawa riangnya bergema, keluar dari bibirnya yang mungil. Boneka ditangannya dipeluknya dan digoyangkan seirama lagu Nina Bobo. Tawanya terhenti ketika namanya dipanggil oleh seorang wanita yang tak lain adalah ibunya sendiri.

Ibu berjongkok di depannya, tapi aneh pandangan mata ibu seakan menyimpan sesuatu yang ingin disembunyikannya, tapi tak mampu….

“Ibu kenapa sedih?” tanya Ria.

“Kamu masih kecil nak, tapi ibu harus jujur sama kamu. Sebenarnya ibu berat mengatakan ini , tapi kamu harus tahu juga. Ayahmu tanpa sepengetahuan ibu, telah meminjam uang yang cukup banyak. Sekarang ayah tidak bisa membayar semua hutang itu. Kita harus membayarnya, darimana kita mendapat uang sebanyak itu Ria?” keluh ibu sedih.

“Ria punya kok, ini… pakai saja , cukup ndak bu?” tangannya yang kecil mengulurkan sebuah dompet miliknya, yang berisi beberapa uang 100 rupiah-an.

Ibu tersenyum getir, dibelainya rambut Ria yang hitam legam itu dengan kasih.

“Uang itu tidak akan cukup, nak. Ria ….bolehkah…? bolehkah ibu meminjam kalungmu itu? Bolehkah ibu menjualnya? Suatu saat jika ibu ada uang, ibu akan membelikannya lagi buat Ria. Semua perhiasan ibu sudah habis, tapi masih banyak hutang yang harus dibayar. Bolehkah ,nak?” suara ibu bergetar.

Ria menatap kalung dengan liontin berbentuk ikan di lehernya, kemudian pandangannya beralih ke ibunya,

……hening sesaat …….., terasa begitu lama …………….

Akhirnya …. dengan senyumannya yang tulus, kepala kecilnya mengangguk,  “boleh bu, tapi ibu janji ya kalau ada uang, kalung itu dikembalikan lagi ke Ria?”

“Iya…”, suara itu pelan, seakan tak berani berjanji, seakan takut janji itu tak akan terpenuhi..

Setelah memberikan kalung berliontin ikan itu ke ibunya, Ria kembali berlari-lari dengan riangnya sambil menggendong boneka di dadanya. Tawanya yang renyah kembali bergaung di seluruh rumah itu.

Sedangkan ibu….. ibu terduduk lemas di lantai. Dipandanginya kalung yang sekarang telah berada dalam genggaman tangannya, perlahan-lahan tetes demi tetes air matanya mengalir membasahi pipinya yang pucat, tangannya mengepal keras.

Seakan tak rela…… tapi harus..! Harus!

Betapa polosnya anakku, hatinya masih putih, masih bersih, seakan tak ada masalah dalam hidupnya.

Gelombang kesedihan bergulung-gulung membuat dada wanita itu sesak, hatinya begitu kelam, begitu hitam dengan kesedihan ……putus asa. Perlahan pandangannya mulai kabur……………. dan kabur……

Hening…….

Waktu perlahan bergulir ……….

Categories